Nama
Semar dikenal sejak jaman Prabu Syailendra yang merupakan raja dari kerajaan
Jenggala. Munculnya legenda semar ini diawali dengan kisah dimana konon saat
prabu syailendra berusia muda beliau sering sekali menerima wejangan2 yang
didapat melalui proses supranatural atau yang dikenal dengan ‘wangsit’. Sebagai
seorang raja pada masanya memang hal ini biasa dilakukan, wangsit yang didapat
itu mengatas namakan “aku adalah semar” yang dengan bijaksana memberikan solusi
atau sumbang saran atas permasalahan yang didapat, akan tetapi wujudnya tidak
pernah nampak sehingga sang prabu ingin sekali melihat wujud Semar apa dan
bagaimana bentuknya. Sebab wejangan yang diberikan selalu saja terbukti hal ini
memperkuat keinginan sang prabu agar Semar maujud dan dapat duduk berdampingan
sebagai penasehat Raja.
Munculnya nama Semar
Nama Semar dikenal sejak jaman Prabu Syailendra yang merupakan raja dari
kerajaan Jenggala. Munculnya legenda semar ini diawali dengan kisah dimana
konon saat prabu syailendra berusia muda beliau sering sekali menerima
wejangan2 yang didapat melalui proses supranatural atau yang dikenal dengan
‘wangsit’. Sebagai seorang raja pada masanya memang hal ini biasa dilakukan,
wangsit yang didapat itu mengatas namakan “aku adalah semar” yang dengan
bijaksana memberikan solusi atau sumbang saran atas permasalahan yang didapat,
akan tetapi wujudnya tidak pernah nampak sehingga sang prabu ingin sekali
melihat wujud Semar apa dan bagaimana bentuknya. Sebab wejangan yang diberikan
selalu saja terbukti hal ini memperkuat keinginan sang prabu agar Semar maujud
dan dapat duduk berdampingan sebagai penasehat Raja.
Akan tetapi hal ini tidak pernah menjadi kenyataan hingga sang prabu mangkat
Semar tidak pernah maujud.
Dengan mangkatnya Prabu Syaelendra maka terjadi perebutan tahta kerajaan dengan
ditandai timbulnya pemberontakan dimana-mana. Anehnya pada pemberontakan itu
Semar dijadikan semboyan untuk menyatakan kesetiaan pada sang Prabu bahwa
kendati beliau sudah mangkat mereka tetap akan menjaga keutuhan istana yang
kini hanya tinggal petilasan di lereng gunung Dieng tepat di desa Punjul yang
kerap ditemukan fosil-fosil dan tembikar yang terbuat dari perunggu
Hari, bulan dan tahun berganti Kerajaan Syaelendra terkubur ditelan alam dan
nama Prabu Syaelendra tetap terukir dalam sejarah. Namun yang terjadi pada para
ahli waris dan keturunannya semua terbius oleh keserakahan dan ambisi untuk
menjadi pimpinan. Karena itulah tumbuh kerajaaan-kerajaan kecil bagai jamur
dimusuhi hujan. Tetapi tetap semar dijadikan sebagai Dewa pelindung di tanah
jawa yang pada saat itu menganut agama Hindu dan Budha. Meskipun Semar bukanlah
Dewa !!.
Dari hasil pemujaan pada tempat-tempat yang dianggap suci maka disitulah mereka
mengolah jiwanya untuk mendapatkan kekuatan dalam penyatuan alam sehingga
mendapatkan wangsit bagaimana untuk mengarungi perjalanan hidup. Akan tetapi
tidak semua mampu menganalisa wangsit tersebut sehingga akhirnya mereka
menggunakan ritual yang tidak ada pada wangsit yang mengakibatkan munculnya
ilmu-ilmu keturunan di tanah jawa, salah satunya adalah ilmu kebatinan.
Lain halnya bagi mereka yang mampu menganalisa wangsit yang diterima maka
mereka dapat mengolah jiwanya sehingga timbul rasa percaya diri sebagai sumber
kekuatan yang luar biasa. Dialah cikal bakal yang mampu menghalau musuh
sehingga mampu menghalau musuhnya dengan meluluhkan hatinya dan musuh tunduk
mengikuti perintah mereka. Mereka terus menganggap Semar sebagai pengayom
sedangkan Semar tetap belum maujud namun sugesti yang dirasakan membuat nama
Semar mengalir ke rongga tubuh hingga memancarkan suatu charisma.







No comments:
Post a Comment